KALIMANTAN UTARA — Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengungkapkan titik awal api terdeteksi di puncak tebing Blok Bantengan-Jantur. Area itu merupakan jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dengan Ranu Pani, yang kerap dilalui warga dan pendaki.
"Dugaan kami ada kemungkinannya kan itu faktor manusia jadi bukan faktor alam," kata Rudijanta, Sabtu (8/8).
Perapian yang Tak Padam Sempurna Jadi Pemicu
Rudijanta menduga kebakaran berawal dari perapian yang dibuat pelintas untuk menghangatkan diri di tengah suhu dingin. Api dari perapian itu diduga tidak dipadamkan dengan sempurna, lalu tertiup angin dan menyulut kobaran yang lebih luas.
"Nah kemungkinan kadang-kadang yang melintas itu kalau pas tengah-tengah dingin juga kemudian bikin perapian mungkin lupa atau seperti apa dengan cuaca seperti ini itu menjadi pemicu kebakaran seperti itu yang kita duga sampai saat ini," ujarnya.
Meski demikian, Rudijanta menegaskan pihaknya belum melakukan penelusuran pelaku karena masih fokus pada upaya pemadaman. Ia menilai kebakaran tersebut kemungkinan besar terjadi tanpa unsur kesengajaan.
"Saat ini karena kami masih fokus dengan pemadaman, kita belum ke arah sana. Tapi menurut saya, kalau ini ada kesengajaan atau tidak sebenarnya tidak disengaja menurut kami," tuturnya.
Kerugian Ekologis Belum Dihitung, Butuh Kajian Ahli
BB TNBTS belum menghitung kerugian akibat rusaknya vegetasi dan dampak ekologis dari kebakaran ini. Rudijanta menyebut penghitungan memerlukan tenaga ahli, baik untuk menilai kerugian tanaman, rumput, maupun komponen ekosistem lainnya.
"Itu belum kami hitung juga, karena ada ahli yang menghitung kerugian. Baik itu kerugian dari tanaman, rumput dan lain-lain. Itu butuh ahli," katanya.
Pemadaman dari Udara dan Darat Dikerahkan
Kebakaran di kawasan wisata Gunung Bromo bermula Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. BPBD Provinsi Jawa Timur bersama petugas gabungan menerjunkan satu unit truk pemadam, satu unit truk tangki, satu mobil L300 bermuatan tandon air, satu unit drone water spray, serta helikopter water bombing jenis PK-DBM milik BNPB.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur Satriyo Nurseno mengatakan angka luas area terbakar masih berpotensi bertambah. "Luas area terbakar kurang lebih 176,20 hektare, data berkembang," kata Satriyo dalam laporannya, Jumat (7/8) petang.
Akibat kejadian ini, BB TNBTS menutup sebagian kawasan wisata hingga waktu yang belum ditentukan. Pintu masuk dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang masih ditutup sementara untuk keselamatan pengunjung dan mendukung proses pemadaman.