Pencarian

Take-Two Yakin Industri Game Masuk Mode Streaming Komersial dalam 3 Tahun, Bos Rockstar Sebut Hardware Mahal Bukan Masalah

Minggu, 09 Agustus 2026 • 01:35:01 WIB
Take-Two Yakin Industri Game Masuk Mode Streaming Komersial dalam 3 Tahun, Bos Rockstar Sebut Hardware Mahal Bukan Masalah
Warga mengamati demonstrasi teknologi cloud gaming dalam sebuah pameran industri di Jakarta.

KALIMANTAN UTARA — Krisis harga komponen dan konsol yang berkepanjangan disebut-sebut bakal mengubah cara gamer mengakses judul-judul AAA. Alih-alih membeli hardware mahal, Zelnick menilai cloud gaming akan menjadi pintu masuk utama bagi calon pemain baru yang selama ini terhalang biaya.

Dalam earnings call terbaru Take-Two, Zelnick secara tegas menyebut lonjakan harga hardware saat ini "bukan hal yang baik." Namun, ia yakin perusahaan induk Rockstar Games ini punya jalan keluar: streaming.

Streaming Jadi Solusi di Tengah Harga GPU dan Konsol yang Meroket

Zelnick menyebutkan bahwa teknologi streaming dengan latensi rendah yang benar-benar mumpuni untuk konsumen "sudah di depan mata." Menurutnya, perangkat yang tadinya bukan mesin game akan berubah fungsi menjadi mesin game.

"Kami benar-benar percaya pada streaming. Saya rasa kita akan berada dalam mode streaming komersial dalam tiga tahun," ujar Zelnick dalam panggilan pendapatan tersebut.

Pernyataan ini relevan bagi gamer Indonesia yang kerap kesulitan mendapatkan GPU dan konsol generasi terbaru dengan harga wajar. Fenomena membeli GPU ke luar negeri demi harga MSRP yang sempat ramai dibahas di komunitas PC global juga menjadi cerminan betapa parahnya situasi pasokan saat ini.

Potensi Perluas Pasar Hingga 10 Kali Lipat

Zelnick memperkirakan adopsi cloud gaming yang lebih luas bisa memperbesar basis pengguna potensial Take-Two hingga sepuluh kali lipat. Meski begitu, ia mengakui hal ini tidak serta-merta melipatgandakan pendapatan secara proporsional.

Pasalnya, pelanggan paling loyal dan " paling antusias" saat ini adalah mereka yang sudah memiliki perangkat keras tradisional. Namun, Zelnick menegaskan streaming "menciptakan peluang besar untuk judul-judul yang diminati secara luas, bahkan di luar pasar inti."

Bayangkan skenarionya: seorang pemain di Indonesia yang hanya punya smartphone atau laptop kantor biasa, tanpa GPU dedicated, bisa memainkan GTA 6 dengan kualitas grafis tinggi. Ini adalah pasar yang selama ini belum tersentuh oleh ekosistem konsol dan PC.

Kekhawatiran Hak Kepemilikan Game Kian Menguat

Meski prospeknya terdengar menjanjikan, pergeseran menuju streaming memicu kecemasan besar soal kepemilikan game. Gerakan seperti Stop Killing Games dan protes keras terkait penghentian produksi disk fisik oleh Sony menunjukkan keresahan konsumen.

Banyak gamer khawatir mereka akan kehilangan akses total ke game favorit jika layanan streaming atau subscription ditutup karena tidak lagi menguntungkan. Kekhawatiran ini bahkan disuarakan oleh legenda industri, Hideo Kojima, yang baru-baru ini mengungkapkan ketakutannya bahwa masyarakat "tidak akan bisa mengakses secara bebas film, buku, dan musik yang kita cintai."

Menariknya, Zelnick sendiri pernah menyatakan pada 2020 bahwa ia "sangat skeptis" terhadap langganan sebagai satu-satunya cara distribusi hiburan interaktif. Namun, jika krisis harga hardware terus memburuk, prediksi Philippe Tremblay, direktur langganan Ubisoft, bisa menjadi kenyataan: gamer mungkin terpaksa "nyaman dengan tidak memiliki game."

Bagi komunitas game Indonesia yang terbiasa membeli game via akun bersama atau diskon regional Steam, isu kepemilikan ini sangat krusial. Pertanyaannya kini, apakah dalam tiga tahun ke depan kita akan rela menonton game—bukan memainkannya dari hard drive sendiri?

Follow www.infobulungan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pcgamer.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks