TARAKAN — Prevalensi stunting di Kota Tarakan menunjukkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), angkanya kini berada di posisi 4 persen, sementara Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat 12,6 persen.
Wali Kota Tarakan, Khairul, menyebut capaian ini buah dari kerja kolaboratif yang melibatkan banyak pihak, terutama kader PKK di lapangan. Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menangani persoalan gizi masyarakat.
Peran Kader PKK di Dasawisma dan Posyandu
Khairul menegaskan kontribusi ibu-ibu PKK sangat terasa melalui kerja-kerja di dasawisma, posyandu, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ia menyebut dedikasi mereka menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang sehat.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ada peran besar ibu-ibu PKK yang bekerja dalam keras melalui dasawisma, posyandu, dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan yang dikutip Sabtu (1/8).
Menurutnya, penguatan peran ini sejalan dengan tujuan awal gerakan PKK, yakni memberdayakan keluarga sebagai fondasi pembangunan daerah.
Target Penurunan Stunting dan Kolaborasi dengan UGM
Memasuki usia ke-54, Wali Kota berharap Gerakan PKK semakin solid dan menjadi mitra strategis pemerintah. Targetnya jelas: menekan angka stunting di Tarakan lebih rendah lagi sekaligus mewujudkan keluarga yang mandiri dan sejahtera.
Rangkaian peringatan HKG PKK ke-54 tahun ini juga diramaikan dengan talkshow serta Expo UMKM dan Ekonomi Kreatif. Kegiatan tersebut digarap bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah bertugas di Kota Tarakan.
Wali Kota menyampaikan terima kasih atas kolaborasi yang terjalin. Ia menilai keterlibatan mahasiswa UGM mampu menghadirkan inovasi sekaligus mendorong pemberdayaan pelaku UMKM lokal agar semakin berkembang.