Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Terbelah: Menkeu Yakin 5,4%, LPEM UI Tembus 4,78%

Penulis: Obi Permana  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:35:31 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 sebesar 5,4 persen dalam konferensi pers di Jakarta.

KALIMANTAN UTARA — Perbedaan proyeksi ini mencerminkan tingginya ketidakpastian global yang membayangi perekonomian domestik. Di satu sisi, ada tekanan dari lonjakan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, dan arus keluar modal (capital outflow). Di sisi lain, pemerintah masih mengandalkan belanja negara dan investasi untuk menjaga mesin pertumbuhan tetap berputar.

Purbaya: Perlambatan Terjadi, tapi Tidak Parah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui adanya perlambatan dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 5,6%. Namun, ia menilai penurunan tersebut tidak akan dalam. "Kalau kami lihat prediksi semua, empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6% untuk kuartal kedua, tapi enggak jauh dari 5,4% juga. Jadi melambat, tapi enggak parah-parah amat," ujarnya.

Purbaya menambahkan, Kementerian Keuangan akan memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk memastikan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi kembali bergerak pada paruh kedua tahun ini. Ia optimistis kondisi ekonomi akan membaik setelah periode penuh gejolak di kuartal kedua.

LPEM UI dan CORE: Konsumsi Tergerus, Pertumbuhan di Bawah 5%

Proyeksi yang jauh lebih konservatif datang dari Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada April-Juni hanya mencapai 4,78%-4,82%. Ada tiga faktor utama yang menjadi biang keladi perlambatan ini.

Pertama, efek basis tinggi karena ekonomi tumbuh 5,12% pada kuartal II 2025. Kedua, tidak ada dorongan musiman karena Ramadan dan Idul Fitri jatuh penuh di kuartal I 2026. Ketiga, guncangan eksternal berupa harga energi tinggi dan pelemahan Rupiah yang memicu inflasi impor dan menaikkan biaya produksi.

"Secara keseluruhan, kami memperkirakan PDB Indonesia di Triwulan-II 2026 akan tumbuh sebesar 4,80%, dengan rentang estimasi dari 4,78% hingga 4,82%," kata Riefky, Selasa (4/8).

Senada, Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet juga memproyeksi pertumbuhan di kisaran 4,8% hingga 4,9%. Ia menyoroti normalisasi konsumsi rumah tangga setelah momentum Lebaran yang justru menggerus belanja masyarakat. Pelemahan rupiah disebutnya turut memperberat biaya impor bahan baku dan energi, sementara kenaikan harga energi global membatasi kontribusi ekspor.

"Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga energi global dan perlambatan perdagangan dunia yang membatasi kontribusi ekspor," jelas Rendy. Ia menambahkan, aktivitas manufaktur masih belum kuat, tercermin dari PMI yang sempat berada di zona kontraksi selama sebagian besar kuartal II, meski mulai membaik pada Juli.

BCA dan Bank Permata: Masih Ada Ruang Tumbuh di Atas 5%

Di tengah dominasi sentimen negatif, sejumlah bank besar masih memasang target di atas 5%. Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan pertumbuhan kuartal II mencapai 5,12%. Menurutnya, perlambatan utamanya disebabkan net ekspor yang lebih lemah seiring neraca barang Indonesia yang mulai defisit.

"Di sisi lain, komponen investasi diperkirakan jadi pendorong utama, didorong oleh beberapa program pemerintah," ujar David. Ia menilai kebijakan yang bisa mendorong investasi swasta menjadi hal paling mendesak untuk menjaga momentum di semester kedua, karena investasi berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan daya beli masyarakat.

Optimisme lebih tinggi datang dari Ekonom Bank Permata Faisal Rachman yang memproyeksikan angka 5,35%. Meski mengakui faktor perlambatan serupa—normalisasi setelah Lebaran dan efek basis tinggi—Faisal menilai permintaan domestik tetap tangguh. "Permintaan domestik diperkirakan tetap tangguh berkat upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan dan ruang fiskal yang memadai," tulisnya dalam riset.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha?

Hasil rilis BPS siang ini akan menjadi sinyal penting bagi pergerakan pasar keuangan. Jika data keluar di bawah 5%, tekanan pada nilai tukar rupiah dan pasar obligasi berpotensi meningkat. Sebaliknya, angka di atas 5% akan memberi ruang bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk lebih fokus pada stimulus pertumbuhan dibandingkan stabilisasi kurs.

Bagi pelaku bisnis, data ini menjadi acuan dalam menyusun strategi produksi dan ekspansi hingga akhir tahun. Investor pun akan mencermati respons kebijakan lanjutan dari Kementerian Keuangan dan BI setelah data resmi dirilis.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Obi Permana
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top