Banjir Bandang Terjang Nunukan Sebelum Fajar, Ratusan Rumah Terendam hingga Kendaraan Hanyut

Penulis: Naufal Aditama  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49:01 WIB
Ratusan rumah di Kelurahan Sei Fatimah, Sei Bilal, dan Sungai Sembilan, Nunukan, terendam banjir bandang yang terjadi sebelum fajar.

NUNUKAN — Air datang tanpa peringatan saat sebagian besar warga masih terlelap. Dalam hitungan menit, derasnya arus mengubah rumah-rumah di Kelurahan Sei Fatimah, Sei Bilal, dan Sungai Sembilan menjadi lautan lumpur. Di Pulau Sebatik, banjir dengan ketinggian serupa juga menggenangi permukiman dan fasilitas umum.

Di Sungai Sembilan, Kecamatan Nunukan Selatan, lebih dari 30 rumah warga dan sebuah sekolah swasta terendam. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sebuah mobil terseret arus hingga beberapa meter sebelum akhirnya tersangkut batang kayu.

Drainase Tersumbat Jadi Pemicu Utama

Warga menduga banjir kali ini bukan semata akibat tingginya curah hujan. Kombinasi debit air dari hulu yang meningkat dan air laut yang sedang pasang membuat aliran menuju muara tertahan. Namun, faktor yang paling disorot adalah saluran drainase yang tidak mampu lagi menampung air.

"Dulu ada dua jalur pembuangan air. Sekarang salurannya menyempit, bahkan ada yang sudah tertutup. Akibatnya air tertahan dan meluap ke permukiman," ujar Jayna, warga Kelurahan Selisun, kepada awak media.

Kesaksian Warga: Air Naik Saat Semua Terlelap

Sela, warga Sei Fatimah, masih membekas mengingat dinginnya air yang membangunkannya. Ia bersama tiga adiknya dan seorang anak kecil tengah tidur ketika air hampir mengenai telinganya.

"Saya baru sadar saat air sudah hampir mengenai telinga," kenangnya.

Seluruh isi rumahnya basah. Peralatan elektronik rusak, pakaian tidak ada yang tersisa kering, dan usaha jualan es yang menjadi sumber penghasilan keluarganya ikut lumpuh. "Saya jualan es. Semua perlengkapan usaha ikut terendam," ujarnya lirih.

Kesaksian serupa disampaikan Ina. Ia terbangun bukan karena suara hujan, melainkan dentuman keras dari pintu belakang rumah yang didobrak arus banjir. "Saya kira ada orang mengetuk. Ternyata pintu sudah didorong air," tuturnya.

Dalam lima menit, air naik hampir setinggi leher orang dewasa. Prioritas Ina hanya satu: menyelamatkan anak dan kakaknya yang tengah mengandung. Setelah memastikan keluarga aman, ia baru menyadari tiga sepeda motornya hanyut terbawa arus. Satu ditemukan di dekat rumah, satu di bawah kolong, dan satu lainnya harus dievakuasi ke bengkel.

Kerugian Materi dan Modal Usaha Ludes

Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga menghilangkan mata pencaharian warga. Ina yang berprofesi sebagai penjual makanan dan minuman kehilangan seluruh modal usahanya.

"Saya hanya sempat membawa telepon genggam. Berkas penting, kulkas, kompor, bahan makanan, semuanya rusak. Modal usaha saya habis," katanya.

Hal yang sama dialami Cice Hernani (47). Ia mengaku banjir kali ini jauh melampaui semua pengalaman yang pernah dialaminya. Saat air naik sekitar pukul 04.00 Wita, ketinggiannya mencapai dada orang dewasa. Warga panik dan sebagian harus menggunakan tali untuk keluar dari rumah karena arus terlalu deras.

"Alhamdulillah sebagian tertahan pohon. Kalau tidak, mungkin hanyut lebih jauh," ujarnya.

Bantuan Mulai Berdatangan, Warga Butuh Kebutuhan Dasar

Di tengah kepanikan, bantuan mulai berdatangan. Personel TNI dan kepolisian dikerahkan untuk membantu proses pembersihan lumpur yang menebal di dalam rumah-rumah warga.

Namun, rasa syok masih membekas. "Ini pertama kali banjir separah ini. Anak-anak sudah tidak punya pakaian yang bisa dipakai. Kami berharap ada bantuan kebutuhan dasar agar bisa kembali menjalani aktivitas," pungkas Sela.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi sistem drainase perkotaan agar kejadian serupa tidak terulang. Perbaikan saluran air menjadi prioritas utama sebelum musim hujan berikutnya tiba.

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: kaltaragrande.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top