PULAU BUNYU — Keberhasilan intervensi Sumur BN-38 berangkat dari evaluasi komprehensif yang mencakup pemutakhiran analisis data subsurface, termasuk data saturasi log. Data itu dipakai untuk mendapat gambaran lebih akurat soal keberadaan dan potensi sisa hidrokarbon di lapisan yang digarap.
Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar penentuan strategi intervensi. Tim memilih menerapkan water shut off dengan mengisolasi dan menyemen interval yang terindikasi menghasilkan air, lalu melakukan perforasi pada lapisan top sand.
Perforasi Top Sand untuk Tekan Masuknya Air
Langkah perforasi diarahkan untuk mengoptimalkan produksi minyak sekaligus menekan masuknya air ke sumur. Kombinasi itu yang membuat produksi awal setelah intervensi melompat jauh dibandingkan kondisi sebelumnya.
Senior Manager Bunyu Field, Ruri Heriandi, menjelaskan evaluasi sumur BN-38 menunjukkan interval J-72 masih menyimpan potensi hidrokarbon yang belum terproduksikan secara optimal. Karena itu, PEP Bunyu Field membuka kembali interval tersebut.
"Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan strategi intervensi yang tepat, termasuk penerapan water shut off dengan mengisolasi dan melakukan penyemenan pada interval yang terindikasi menghasilkan air, serta melakukan perforasi pada lapisan top sand untuk mengoptimalkan produksi minyak sekaligus meminimalkan masuknya air," jelas Ruri Heriandi.
Ia menyebut hasil awal intervensi menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan. "Alhamdulillah, hasil awalnya menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan semoga bisa bertahan dalam waktu yang panjang," imbuhnya.
Water Shut Off Jadi Kunci di Lapangan Mature
Penerapan water shut off menjadi salah satu cara menjaga sumur yang sudah lama berproduksi tetap mengalirkan minyak. Interval yang kebanjiran air diisolasi, sementara lapisan yang masih menyimpan hidrokarbon dibuka kembali lewat perforasi.
General Manager Zona 10, Darmapala, menyatakan perusahaan terus menerapkan inovasi dan teknologi dalam kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur migas. Upaya itu diarahkan untuk menaikkan produktivitas, recovery rate, serta memperpanjang usia sumur.
"Keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 menunjukkan bahwa optimalisasi aset eksisting dapat memberikan tambahan produksi yang berarti. Upaya seperti ini akan terus kami dorong untuk mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki Pertamina," ujar Darmapala.
Tantangan Lapangan Mature dan Ketahanan Energi
Lapangan Bunyu termasuk lapangan yang sudah mature. Menjaga produksi di tengah keterbatasan itu menjadi pekerjaan rutin PEP Bunyu Field agar pasokan migas dari Kalimantan Utara tetap berjalan.
PEP Bunyu Field merupakan bagian dari Zona 10 Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan yang dikelola PT Pertamina Hulu Indonesia. Operasi dijalankan bersama SKK Migas dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Keberhasilan di Sumur BN-38 menambah daftar upaya optimalisasi aset eksisting yang dilakukan perusahaan. Hasilnya menjadi acuan untuk melihat sumur-sumur lain yang dinilai masih menyimpan sisa potensi hidrokarbon.